
Psikolog klinis Isqi Karimah, M.Psi. Psikolog, memaparkan materi adaptasi perantauan dalam webinar kesehatan mental yang digelar secara daring oleh PPI Taiwan dan Ruang Rasa, Sabtu (2/5/2026). (Foto: Dok. PPI Taiwan)
TAIPEI, TAIWAN – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Taiwan bekerja sama dengan Ruang Rasa menyelenggarakan agenda Webinar and Group Healing Session bertajuk “Mental Insight & Safe Environment”. Sesi edukasi yang berfokus pada kesehatan mental ini digelar secara daring melalui platform Zoom Meeting pada Sabtu, 2 Mei 2026 hingga Minggu, 3 Mei 2026.
Pada hari pertama, webinar mengangkat tema spesifik “Navigating the Gap: Memahami Homesickness & Adaptasi di Perantauan”. Agenda tersebut secara khusus menghadirkan psikolog klinis dari Ruang Rasa, Isqi Karimah, M.Psi. Psikolog, guna memberikan wawasan mendalam bagi para mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di luar negeri. Jalannya diskusi interaktif ini dipandu oleh Salwa Alya selaku perwakilan dari PPI Taiwan.
Fakta Realitas Perantau dan Lima Tahapan Kehidupan
Dalam pemaparannya, Psikolog Isqi menyajikan data riset dari studi Boddy (2020) yang menunjukkan fakta bahwa dua dari tiga mahasiswa mengalami homesick dalam kurun waktu lebih dari extrapolation enam minggu setelah memasuki universitas. Kombinasi antara homesickness dan loneliness (rasa sepi) bahkan kerap menjadi alasan kuat di balik keputusan mahasiswa untuk keluar dari perguruan tinggi. Melalui data ini, pembaca diedukasi untuk memahami bahwa transisi psikologis di tanah perantauan adalah sebuah realitas yang berat namun wajar terjadi.
Dalam proses adaptasi tersebut, terdapat lima tahapan psikologis yang biasa dilalui oleh seorang perantau. Fase pertama adalah honeymoon, di mana mahasiswa merasa sangat antusias terhadap lingkungan baru. Fase ini kemudian diikuti oleh culture shock, yaitu masa mulai merasakan perbedaan budaya secara signifikan, terutama saat dihadapkan pada situasi yang tidak menyenangkan. Setelah itu, mahasiswa akan memasuki fase adjustment untuk mencoba mengikuti rutinitas harian, yang kemudian disusul oleh fase rentan bernama isolation yang kerap memicu munculnya perasaan sepi. Proses ini pada akhirnya akan bermuara pada fase acceptance, yaitu ketika mahasiswa telah mampu menerima kenyataan di lingkungan barunya dengan lapang dada.
Cognitive Reframing sebagai Solusi Adaptif

Tangkapan layar materi metode Cognitive Reframing yang disajikan sebagai panduan praktis mahasiswa untuk mengelola emosi dan pikiran negatif selama menempuh studi di luar negeri, Minggu (3/5/2026). (Foto: Dok. PPI Taiwan)
Sebagai langkah preventif dan solutif, Psikolog Isqi mengenalkan metode Cognitive Reframing untuk membantu mahasiswa berpikir lebih adaptif. Metode ini mengedukasi pembaca mengenai pentingnya menjaga interaksi yang sehat antara pikiran (thoughts), emosi (emotions), dan perilaku (behavior) agar tidak terjebak dalam pusaran emosi negatif saat menghadapi peristiwa pemicu di perantauan.
“Apapun pikiran negatif yang muncul, cobalah untuk melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas dan pertanyakan kembali pikiran tersebut layaknya seorang ilmuwan yang penuh rasa ingin tahu,” jelas Psikolog Isqi dalam pemaparannya.
Edukasi praktis ini disimulasikan lewat tabel analisis restrukturisasi kognitif. Ketika muncul pikiran awal yang mengisolasi diri seperti “Saya sendirian karena tidak menarik”, mahasiswa diajak untuk aktif mencari bukti pendukung dan bukti yang tidak mendukung secara objektif. Melalui proses evaluasi mandiri tersebut, pikiran alternatif yang lebih sehat akan terbangun, misalnya mengubah sudut pandang menjadi “Saya tidak sendirian, melainkan sedang dalam proses membangun koneksi baru di lingkungan yang baru”.
Strategi Praktis Mengelola Emosi
Selain pendekatan kognitif, sesi ini juga merumuskan berbagai strategi praktis untuk mengatasi kejenuhan emosional. Pembaca disarankan untuk senantiasa bersikap baik pada diri sendiri, seperti menikmati makanan favorit (comfort food) atau menonton acara televisi kesukaan, berani menceritakan perasaan kepada orang lain, menyisihkan waktu istirahat, serta menulis jurnal harian atau bermeditasi.
Ekspresi emosi yang jujur seperti menangis yang melegakan juga menjadi bagian dari pemulihan diri. Untuk memperluas jejaring sosial, mahasiswa dapat mendaftarkan diri sebagai sukarelawan atau mencoba membuka obrolan dengan orang baru. Namun, jika kejenuhan emosional tersebut mulai mengganggu aktivitas harian, pembaca diedukasi untuk tidak ragu berkonsultasi ke psikolog atau psikiater guna mendapatkan penanganan profesional.
Melalui kolaborasi ini, PPI Taiwan berharap dapat terus memfasilitasi ruang aman bagi seluruh pelajar Indonesia di Taiwan agar tetap resilien dan mampu menjaga kesehatan mental mereka selama menempuh masa studi.
Penulis: Adi Surya Witjaksono
Sumber Foto: Dok. Tangkapan Layar Webinar PPI Taiwan × Ruang Rasa